entah setan mana yang membekap suara dan menyajikan hening dalam 30 menit kita menuju pulang. saya supir yang memangkukan dagu pada stir. mata, hidung, telinga, menyatakan kau tak ada, tapi hati dan pikiran tidak. kau pun begitu, duduk gelisah melempar pandang keluar jendela yang lumat jarak per jaraknya seolah kau bergerak lewat auto-pilot.
kau diam, dan saya tanpa kata. tak ada dari kita yang bertanya, "hey, ada apa?"
saya rasa memang tidak ada apa-apa, hanya saja kita sedang butuh diam. saya rasa kita sedang tak ingin muncul ke permukaan: tukar cerita, lempar canda atau sekadar bahu-membahu mengatai orang-orang yang kita tidak suka. saat itu saya menyadari, bahwa kita mungkin sedang ingin tenggelam, dalam diam. dalam bekapan hening setan.
tapi cerita tak boleh berakhir dengan ketidakpastian. jam berhenti berdetak bukan karena waktu berhenti berputar. saya menyadari ada yang salah, sesaat setelah meninggalkanmu lewat sebuah lambaian sendu di pintu kendaraanmu.
pesan singkat segera berjingkat:
"tak ada yang tahu apa yang terjadi antara kita, dan kita tak perlu mencari tahu. karena kita bukan anak kecil lagi yang selalu mencari dan membesar-besarkan masalah. tak ada yang salah, tapi bukan berarti kita tak bisa menjadi bagian dari solusi, karena mungkin saja saya membuatmu marah. saya minta maaf, dan terimakasih untuk 30 menit yang hening di malam ini."
1806.0225, ditulis sepihak oleh si btok disela-sela mengerjakan tugas UAS terakhirnya. amin.
(margahayu)
6/17/09
#011: HENING
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment