mimpi kita, ibarat mendirikan rumah kartu di ruang yang menderu. menara itu tak kunjung menyatu sebelum ada yang menutup pintu, dan tak membiarkan angin berlalu.
beberapa malam yang lalu kita berbicara tentang proses menutup pintu, yakni (beberapa) tahap yang harus dijalani sebelum kita bermimpi mendirikan istana kartu. proses yang tak bisa dielakan tapi lumayan mengerikan. salah-satu contohnya: annelis yang capitolcity-oriented menyoal tempat kerja idamannya. sementara saya menjadikan Jakarta sebagai opsi terakhir. jika itu terjadi, mau tidak mau kami harus menjalani long distance relationship (LDR). "gak tau, aku gak pernah bayangin bisa LDR dari dulu tok," ujarnya. saat itu pesimisme hinggap beberapa saat seperti capung di daun kering yang bergoyang.
"ya gitu, aku bayanginnya, orang yang LDR tuh bakal abis sama rasa takut, rasa gak aman dia ke pasangannya. dia gak tau si anunya lagi ngapain, cheating atau nggak. dan dia juga bisa ngelakuin hal yang sama. akhirnya dua-duanya tenggelam dalam rasa takut masing-masing, menyalahkan keadaan, seolah ada yang berubah, padahal yang berubah itu rasa percaya mereka ke pasangannya."
saya melemparkan pandang ke luar jendela, dan dia merebah, "sudah, jangan bicara tentang itu dulu." saya tahu, kami tidak boleh lemah di saat yang bersamaan. dia bertindak heroik untuk berpura-pura kuat lebih dulu. saya juga mencoba untuk berpura-pura kuat sambil mengembalikan peluknya erat :D.
...jika malam ini adalah malam terakhir sebelum kau pergi meninggalkanku menuju ibukota. saya hanya akan berkata, God bless internet, Cipularang, dan SIMPati nelpon 0,5 rupiah per/detik. semoga kita bisa saling percaya, dan, tunggu aku di Jakarta, :D...
karena saya ingin kamu yang menjadi putri di puri kartuku. tapi siapa yang harus menutup pintu agar angin tak berlalu? kita, ya semoga saja kita bisa. God bless us.
2506.1942, ditulis sepihak oleh si btok untuk mengatasi keragu-raguan kecilnya tentang proses menutup pintu itu. :p
(margahayu)

No comments:
Post a Comment