hidup adalah sebuah peran. dan usia adalah peraturan.
melatih hidup adalah melatih peran, dan Stanislavski membuatkannya peraturan. untuk meraih konsentrasi dan relaksasi dalam berperan, seseorang harus berlatih untuk memekakan indera dan memutar memori.
jika hidup adalah peran, maka sepanjang hidupmu kau telah (dan akan) ditonton jutaan insan. cacian dan pujian adalah pencapaian yang tak bisa dielakkan. tapi relaksasi peran adalah kenikmatan tersendiri. kalau hidup adalah peran, maka itu hanya tentang sejauh mana kita mengidentifikasi kemampuan mengeksplorasi nilai-nilai intelektual, emosional dan spiritual yang mungkin bersemayam hingga palung terdalam jiwa kita.
dan Tuhan menghadiahi kita kapal selam untuk mengarungi lautan paling dalam. semakin panjang umur kita, semakin dalam kita tenggelam dalam lika-liku hidup yang katanya kelam. setiap orang adalah komandan kapal selamnya masing-masing. terserah dia, mau turun, mengambil risiko untuk mengeksplorasi diri. tetap mengapung tak tahu arah pasti. atau justru naik mengambang tersenyum tak tahu apa-apa sambil menikmati matahari.
jadi terserah saya, jika saya ingin tenggelam dalam kontemplasi saya yang muram. terserah saya, untuk menikmati hidup yang tiap menitnya makin dalam. dan terserah saya, jika ingin membawa kamu sebagai lampu agar sepi saya tak terlalu temaram. kau beri jawaban di atas kertas buram. iya atau tidak, kuberi waktu tiga hari tiga malam. kau jadilah bagian dari inderaku, bagian dari memori usiaku.
karena indera dan usia, adalah alat. adalah perangkat yang membuatku kuat. berkontemplasi itu nikmaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat, :p.
1007.0231. ditulis oleh si btok ketika yakin bahwa salah satu momen terbaik dalam hidupnya adalah ketika meraba, menghirup, merasa, mendengar, melihat, dan mengingat annelis. *blush edan!
(margahayu)

No comments:
Post a Comment