suatu senja, dalam sujud rakaat kedua, melintas tanya dengan tiba-tiba. "apakah mencintai seseorang seperti menabung rasa sakit?" saya pulang dan menanyakan ini pada annelis. interpretasi saya terhadap pertanyaan itu adalah, ketika kita mencintai seseorang semakin dalam, berarti semakin menggunung juga tabungan sakit yang kita simpan entah di bank imajinasi mana itu, karena semakin dalam kita mencintai seseorang, semakin dalam pula luka yang akan timbul ketika hal yang tidak diinginkan terjadi. ya, imajinasi rasa sakit, seperti imajinasi uang yang kita simpan di bank. kita tak tahu uang itu ada dimana sebelum kita mencairkan uang itu. maka, sakit itu pun baru nyata ketika kita mencairkannya.
"maka jangan mencintai seseorang terlalu dalam," ujarnya.
saya berkata, "maka jangan pernah terpikir untuk mencairkan tabungan sakit itu. maka teruslah bersama saya."
suatu malam, saya mencintainya semakin dalam. berat langkah meninggalkannya dalam kelam, karena perbincangan kami belumlah usai untuk disulam. beberapa jam setelah senja, malam tiba. dan saya sadar, saya terlalu banyak berharap. sementara ia begitu realistis. lalu kita melangkah ke depan lewat kecepatan cahaya, dan ia berhenti jauh di belakang saya. langkahnya pasti dan hati-hati, dan saya...saya malah baru sadar saat itu, mengapa melangkah sejauh ini. ya saat itu saya sadar terlalu banyak berharap, dan ia begitu realistis. sementara hubungan harus dibangun atas rasa percaya, dan percaya itu bagi saya adalah harapan yang realistis!
selain percaya, hubungan kami juga inginnya berangkat dari harapan yang sama. maka malam itu saya minta annelis untuk memangkas harapan saya tak jauh dari harapannya. agar harapan kami seimbang, meski tak mungkin identik memang. ya begitulah, jika cinta adalah kepala,
maka sebutlah saja kami: cinta dengan model rambut yang sama!
1407.0701. ditulis sepihak oleh si btok sebelum pergi kuliah. :D.

No comments:
Post a Comment